Kost Belakang Gang
Aku pindah ke kost itu karena harganya murah dan dekat kampus. Gangnya sempit, tapi masih wajar—siang hari ada orang lewat, ada warung kecil di depan, dan beberapa penghuni lain yang kadang terlihat. Bangunannya agak tua, tapi tidak sampai menyeramkan. Lebih terasa sepi saja kalau malam.
Pemilik kost bilang kalau malam biasanya tenang karena kebanyakan penghuni kerja pagi. Aku tidak terlalu mikirin itu.
Malam pertama, aku tidur seperti biasa. Sekitar jam 12 lewat, aku sempat terbangun karena suara langkah kaki di lorong. Tidak keras, seperti orang jalan biasa. Aku pikir itu penghuni lain yang baru pulang, jadi aku lanjut tidur.
Tapi beberapa menit kemudian aku terbangun lagi. Langkah itu masih ada. Kali ini aku benar-benar memperhatikan. Polanya aneh, bukan seperti orang lewat, tapi seperti mondar-mandir. Beberapa langkah, berhenti, lalu balik lagi. Masih masuk akal, mungkin orang lagi telepon atau kepikiran sesuatu.
Lalu tiba-tiba langkah itu berhenti. Tepat di depan kamarku.
Aku diam. Tidak ada ketukan, tidak ada suara orang. Hanya hening beberapa detik. Setelah itu langkahnya terdengar lagi, menjauh pelan.
Besok paginya aku sempat tanya ke salah satu penghuni. Dia bilang tidak ada yang pulang malam. Aku cuma mengangguk, mencoba tetap logis. Mungkin suara dari luar gang.
Tapi malam kedua, suara itu kembali. Dengan pola yang sama.
Aku sengaja belum tidur. Jam 12 lewat sedikit, suara itu muncul lagi. Langkah pelan, mondar-mandir, dengan ritme yang sama persis seperti semalam. Di situ aku mulai ngerasa aneh. Kalau orang, harusnya beda-beda geraknya. Ini malah kayak diulang.
Aku berdiri dan mendekat ke pintu, tapi tidak kubuka. Langkah itu berhenti lagi, tepat di depan kamarku. Aku menahan napas. Beberapa detik tidak ada apa-apa, lalu terdengar suara pelan seperti gesekan dari bawah pintu. Aku langsung mundur sedikit. Tapi setelah itu langsung hilang. Langkah kaki terdengar lagi, lalu menjauh seperti biasa.
Malam ketiga aku matiin lampu dan nunggu dalam gelap. Jam 12 lewat, suara itu muncul lagi. Aku berdiri dekat pintu dan sengaja melihat ke bawah.
Tidak ada bayangan.
Harusnya ada kalau memang ada orang di luar.
Beberapa detik kemudian, langkah itu terdengar lagi. Tapi bukan menjauh. Arah suaranya berubah.
Seperti masuk ke dalam.
Aku langsung menoleh ke belakang. Kamar kosong. Tidak ada siapa-siapa.
Tapi suara langkah itu sekarang terdengar dari dalam kamar. Pelan. Satu langkah. Lalu berhenti.
Besoknya aku tanya ke ibu penjaga kost. Awalnya dia menghindar, tapi akhirnya cerita juga. Katanya dulu ada penghuni yang sering komplain hal yang sama. Suara langkah, tiap malam, jam yang sama. Awalnya dari luar… lama-lama dari dalam kamar.
Katanya orang itu akhirnya pindah karena tidak kuat.
Malam berikutnya aku kembali ke kamar dengan perasaan tidak tenang. Jam 12 lewat, suara itu datang lagi. Tapi kali ini aku tidak mendekat ke pintu. Aku cuma diam di kasur.
Langkah itu berhenti.
Lalu untuk pertama kalinya… ada suara lain.
Pelan.
“Masih di dalam ya.”
Aku langsung kaku.
Sejak malam itu, suara langkah tidak lagi cuma di lorong. Kadang terdengar di dalam kamar, kadang di dekat kasur. Aku mulai susah tidur. Setiap malam jamnya sama.
Dan sekarang… ada bisikan.
Awalnya tidak jelas. Seperti orang ngomong tapi tidak bisa dimengerti. Sampai suatu malam aku tanpa sadar menjawab, “Siapa?”
Langsung sunyi.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara jelas, dekat sekali.
“Saya… di sini.”
Aku langsung menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa.
Malam berikutnya aku terbangun dalam keadaan duduk. Aku tidak ingat kapan bangun. Kamar gelap.
Tapi aku dengar napas.
Bukan napasku.
Dari belakang.
Aku pelan-pelan menoleh.
Di sudut kamar… ada seseorang berdiri.
Aku mencoba melihat lebih jelas. Wajahnya samar, tapi bentuknya terasa familiar.
Dia maju satu langkah.
Dan saat sedikit cahaya mengenainya… aku langsung tidak bisa bergerak.
Itu aku.
Dia menatapku, lalu tersenyum pelan.
“Sekarang kamu dengar juga kan.”
Aku tidak bisa bergerak. Tidak bisa bicara.
Lampu tiba-tiba menyala.
Kamar kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi sejak malam itu… aku tidak pernah yakin lagi.
Suara yang selama ini aku dengar… itu datang dari luar.
Atau memang… dari dalam diriku sendiri. 😈

Comments
Post a Comment